Indonesia kembali mendapat sorotan setelah meraih gelar Fossil of the Day pada COP 30 di Belém, Brasil. Gelar yang diberikan oleh jaringan organisasi lingkungan internasional ini biasanya ditujukan kepada negara yang dinilai paling menghambat ambisi penanganan krisis iklim pada hari tersebut. Namun, di balik sindiran yang diperoleh Indonesia, muncul kembali perdebatan mengenai seberapa adil penilaian terhadap Indonesia terutama jika dikaitkan dengan kontribusi historis emisi karbon dunia.

Data Our World in Data mengenai emisi kumulatif global sejak 1751 hingga 2017 menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah penyumbang emisi karbon terbesar. Kawasan seperti Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur mendominasi jejak emisi global, dengan Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, dan Cina menyumbang lebih dari setengah total emisi historis dunia. Sebaliknya, kontribusi Indonesia berada jauh di bawah negara-negara tersebut.  Lantas, kenapa Indonesia mendapatkan gelar Fossil of the day?

Dengan data itu, sejumlah pihak menilai kritik terhadap Indonesia perlu dibaca secara lebih proporsional dan komprehensif. Negara-negara maju telah menikmati pertumbuhan ekonomi selama ratusan tahun melalui industrialisasi berbahan bakar fosil, sementara negara berkembang seperti Indonesia kian menghadapi tekanan untuk melakukan percepatan transisi energi dengan kapasitas fiskal dan teknologi yang terbatas. Di titik inilah wacana climate justice atau keadilan iklim kembali mengemuka: negara yang kontribusi historisnya kecil merasa haknya untuk mendapatkan dukungan transisi yang memadai belum sepenuhnya dipenuhi.

Namun demikian, rendahnya kontribusi historis Indonesia tidak berarti negara ini bebas dari tanggung jawabnya. Justru tantangan terbesar Indonesia berada di dalam negeri sendiri. Emisi dari sektor energi terus meningkat, didorong oleh ketergantungan pada batubara dan lambatnya adopsi energi terbarukan. Selain itu, deforestasi dan degradasi lahan terutama di daerah konsesi industri ekstraktif tetap menjadi sumber emisi yang signifikan dan berulang. Bahkan menjadi aktor penyumbang emisi karbon tertinggi di Indonesia. Di lain sisi, masih ditemukan masyarakat penyumbang emisi karbon terkecil namun menanggung dampak yang besar dari perubahan iklim seperti masyarakat pesisir pantai yang kian hari makin mengalami abrasi besar-besaran.

Hasil analisis menilai bahwa sebagian besar lonjakan emisi Indonesia tidak sepenuh berasal dari masyarakat umum, tetapi dari aktivitas industri berskala besar yang melibatkan pembakaran bahan bakar fosil dan pembukaan lahan secara masif. Dengan kata lain, meski Indonesia sebagai negara memiliki kontribusi historis kecil, perusahaan-perusahaan besar tetap membutuhkan pengawasan dan reformasi kebijakan yang serius.

Sindiran Fossil of the Day ini kemudian menjadi pengingat bagi Indonesia bahwa dunia perlu lebih adil dalam memandang kontribusi iklim negara berkembang, namun Indonesia juga perlu memperkuat komitmen domestik untuk menekan emisi, mempercepat transisi energi, dan menghentikan deforestasi yang tidak berkelanjutan yang memberikan dampak pada masyarakat kecil.

Konferensi COP 30 kembali menegaskan bahwa krisis iklim adalah persoalan bersama dan tidak ada negara yang bisa hanya menjadi korban atau sekadar terdakwa. Semua pihak, baik negara maupun pelaku industri, dituntut untuk mengambil peran nyata, tanpa terkecuali.

Facebook
Twitter
LinkedIn

News

Related News

Sekolah Guru Indonesia Hadir Pada Ajang Internasional Global Educator Award (GEA) dan Great Teacher Summit (GTS) 2025 di Malaysia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *